Pemimpin Yang Mengelola Api dan Mendinginkan (Debat Capres Ke-4)

Pemimpin Yang Mengelola Api dan Mendinginkan (Debat Capres Ke-4)

30/03/2019 Redaksi SATUIndonesia.id JURNALIS: Redaksi SATUIndonesia.id
Biasakan Membaca Sebelum Membagikan

Penutup debat capres malam ini diademkan oleh Jokowi, dan Prabowo merendah, bahkan terlihat seolah ditampar untuk sadar bahwa ia terlalu ngegas bicara bangsa, bicara, hanya bicara bukan berbuat, jadi yang terbukti tetap rasional dan santun itu tetap Jokowi.

Bebuat untuk rakyat hanya kalau jadi Presiden, bukan setiap hari mengisi prestasi untuk negeri.

Kita tidak bisa punya pemimpin pemarah dan tukang ngegas! Kita akan hidup penuh konflik dan ketersinggungan kalau Prabowo memimpin, Jokowi mampu tampil tenang dan rasional serta tidak menyalahkan, meski tersinggung dan terus diserang, Jokowi tetap santun dan mengelola emosi.

Ini gaya pemimpin yang kerap kita dengungkan “BIJAKSANA”, tegas bukan ngegas, tegas artinya menyelesaikan masalah tanpa konflik baru dan tetap membawa damai, seperti Rasullah SAW selalu membawa damai dalam menyelesaikan konflik dan masalah.

Saya membayangkan ketika Prabowo memimpin, masalah apapun akan ditanggapi diawal dengan marah dan emosi, suara kasar, nada tinggi, hingga lupa telah menciptakan masalah baru: KETERSINGGUNGAN ETIKA.

Bangsa ini butuh pertahanan mental dan kelihaian berdiplomasi dalam beragam bidang, bukan butuh senjata milyaran Rupiah, Prabowo bicara militer berbasis kepada anggaran dan senjata, apakah kita mau perang besok? apakah teretori kita sudah diduduki asing sekarang? Apakah infrastruktur untuk memurahkan pengiriman beras, telur dan kebutuh rakyat itu jauh lebih remeh-temeh ketimbang pistol dan tank yang membunuh?

Kita BANGSA, bukan Gerombolan Pemberontak seperti ISIS, HTI atau Khilafah.

Prabowo memang militer yang hebat sampai diberhentikan, padahal ia adalah menantu Presiden Soeharto saat itu, tapi:

Sekadar mengingatkan, Prabowo adalah militer aktif dimasa Pemerintahan Soeharto Orde Baru, masa terburuk militer dan TNI (ABRI) kita, yang sudah diakui oleh dunia sebagai masa terburuk bagi Indonesia yang saat itu penuh pelanggaran HAM dan kejahatan kemanusiaan.

Masa dimana jutaan saudara kita, di Aceh, Timor-Timur (Timor Leste), Ambon, Talangsari, Tanjung Priok dan ratusan kasus kejahatan HAM lainnya termasuk penculikan dan pembunuhan mahasiswa 98 yang terus didengungkan bahwa Prabowo terlibat didalamnya.

Tidak ada kata lain kawans, bangsa ini sudah lelah berkonflik, lelah militerisme, sudah capek kita harus pilih-pilih teman hanya karena beda agama atau bahkan beda pilihan capres.

Sudah capek kita dengan militer yang berkeliaran dijalanan, naik kreta tidak bayar, makan tidak bayar dll seperti saat zaman Soeharto Orde Baru dulu.

Sudah lelah kita memilih yang salah lalu ngeluh dan kecewa lagi lima tahunan.

Prabowo hanya bicara-bicara akan, sementara Jokowi sudah melakukan, kita tidak bisa berjudi lagi memilih yang baru dan kecewa lagi karena terbuai oleh bahasa kampanye.

Melanjutkan, lebih cepat dan aman, ketimbang membeli yang baru yang belum pasti kwalitasnya, kwalitas diiklan dan kampanye selalu baik, tapi prestasi jauh lebih penting ketimbang iklan yang selalu bilang kecap tetap nomor satu.

Kita tidak butuh presiden yang tidak paham unicorn dan menganggap teknologi sekadar hobi, padahal teknologi kini menguasai semua lini kehidupan umat manusia, negara tetangga kita sudah ke Mars, sementara kita masih berdebat soal sistem negara berbasis agama.

Jangan bicara agama, dibarengi bicara orang miskin melimpah dinegeri ini, kita akan malu, karena mayoritas bangsa ini adalah Muslim, dan kita muslim diajarkan untuk saling membantu dan bergotong-royong, komunitas muslim itu punya jejaring keamanan sosial berbasis zakat dan infaq kita, kemana semua itu lari selama ini?

Memilih dan melanjutkan, jangan buang waktu, kita segera menghadapi perang digital antar bangsa, bukan lagi perang senjata.

 

Salam;

Donny Suryono Permadi.S

SATUIndonesia.id


Biasakan Membaca Sebelum Membagikan

Bijak Berpikir, Ayo Komentari