Pesan Luhut B. Pandjaitan Untuk Angkatan 67 Akabri

Pesan Luhut B. Pandjaitan Untuk Angkatan 67 Akabri

27/03/2019 Redaksi SATUIndonesia.id JURNALIS: Redaksi SATUIndonesia.id
Biasakan Membaca Sebelum Membagikan

Yang saya hormati para senior dan teman-teman AK67 sekalian, tampaknya kita sering bersilang pendapat soal berbagai isu nasional. Ijinkan saya ikut memberikan pencerahan karena saya hadir di hampir semua proses pengambilan keputusan, baik itu soal hutang negara, atau soal tenaga kerja asing, dll. Saya menyaksikan sendiri bahwa semua proses berjalan transparan, tidak ada yang ditutup-tutupi, dan proses selalu melibatkan para ahli di bidangnya.

Melalui pesan WA ini saya kembali mengundang para senior atau teman-teman untuk kita berdiskusi terbuka secara langsung di kantor saya, ataupun di tempat yang kita sepakati jika memang dikehendaki.

Silakan datang dan berikan saya pencerahan dalam bidang apapun. Kalau ada yang berpikir bahwa kita musti menyelenggarakan satu seminar, saya pikir tidak perlu sejauh itu. Lebih efisien datang saja sehingga kita dapat bicara juga dengan para ahli ekonomi makro dan mikro yang semua ada di kantor saya. Mereka profesional, ada yang praktek, ada juga yang punya data kuat. Mereka berkolaborasi dengan ahli-ahli lain dari dalam dan luar negeri. Semua analisa dan pekerjaan kita lakukan secara komprehensif, tidak ada hanya pemikiran satu orang. Sehingga tidak salah jika kinerja pemerintah yang demikian diakui oleh lembaga-lembaga internasional seperti S&P (Standard and Poor’s) yang menyatakan bahwa ekonomi Indonesia itu ada pada posisi sangat baik.

Saya persilakan siapa saja di antara teman-teman untuk datang termasuk Pak Iskandar Ramis. Semua bebas bertanya dari A sampai Z karena semua data ekonominya ada. Atau silahkan juga mengajak orang yang ahli menurut Anda. Saya sangat welcome.

Undangan ini saya sampaikan dengan harapan agar tidak ada lagi diantara kita yang terus berburuk sangka. Soal pilihan teman-teman mau pilih 01 atau mau pilih 02, silahkan saja tidak ada masalah. Tapi jangan kita memilih karena informasi yang salah/disinformasi.

Contohnya informasi menyangkut keberadaan PKI. Presiden sudah memerintahkan Panglima TNI dan KASAD untuk memeriksa di mana gerakan komunisme yang ada sekarang ini. Hasilnya sudah dilaporkan di bulan Januari kemarin dan tidak ditemukan itu.

Contoh lain masalah pemerintah yang anti Islam atau anti ulama. Saya sendiri banyak menerima kesaksian yang menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo sangat taat melaksanakan ibadahnya. Bukan saya sendiri yang ngomong, tapi seperti habib sekaliber Alwi Shihab dan Ustad TGB yang sering mendampingi Presiden.

Isu lain adalah tentang tenaga kerja honorer di mana kesalahan itu bukan dibuat oleh Presiden sekarang. Kita mewarisi masalah terkait sekian puluh ribu pekerja berstatus honorer yang dibuat berdasarkan kebijakan sejak 14 atau 15 tahun yang lalu, meski seharusnya tidak dilakukan. Tapi sekarang kita harus mitigasi dampaknya.

Selanjutnya mengenai tenaga kerja asing. Tidak benar ada jutaan atau ratusan ribu tenaga kerja Tiongkok di Morowali. Yang ada hanyalah sekitar 3.000 orang dari total 30.000 lebih tenaga kerja di sana. Kebutuhan tenaga kerja asing karena memang tidak ada tenaga skilled kita yg tersedia utk mengisi pekerjaan tertentu yg dibutuhkan oleh industri terkait. Sekarang kita membangun sekolah kejuruan yg produksi 600 lulusan pertahun utk secara bertahap menggantikan para pekerja asing dimaksud. Harus ingat bahwa dulu-dulu masalah pendidikan sering tidak diperhatikan oleh pemerintah.

Pembangunan banyak dilaksanakan di era Jokowi termasuk di luar Jawa, sehingga banyak dibutuhkan tenaga kerja terampil. Contohnya seperti di Morowali yang sudah masuk menjadi salah satu dari lima integrated industry terbesar di dunia. Pertanyaannya, apakah pernah dibangun politeknik yang baik di luar Pulau Jawa? Ketrampilan tenaga kerja kita selama ini tidak pernah dipersiapkan dengan baik untuk mendukung industri. Baru sekarang ini kita bangun dan hasilnya butuh waktu. Dengan demikian kebutuhan tenaga kerja yang skillful bisa dipenuhi.

Masalah penggajian PNS juga sudah diperbaiki sekarang dengan adanya tunkin (tunjangan kinerja) dengan besarannya dari 70%, 80%, bahkan sampai ada yang 100 % gaji pokok. Kalau 100% artinya gaji sudah diperbesar 2 kali lipat. Di samping itu masih ada perjalan dinas, serta tunjangan lainnya yang diterapkan bervariasi di setiap instansi.

Ada juga yang komplain mengenai susahnya lapangan kerja. Di mana susahnya? Sekarang pekerjaan banyak muncul di pedesaan karena dana desa yang menurunkan kemiskinan. Di mana pernah ada di dunia program pemerintah pusat yang langsung menyentuh pedesaan seperti ini? Pimpinan World Bank sendiri mengatakan pada saya bahwa program seperti dana desa yang dibuat oleh presiden Joko Widodo baru ada di Indonesia. Yang artinya, tiap bulan sebanyak 74.900 desa lebih itu mendapat sekitar Rp 1 milyar per tahun untuk uang itu berputar di desa. Apakah semua itu sempurna? Tentu belum, tapi sekarang sudah 85% termanfaatkan dengan baik.

Ada juga silang pendapat kita tentang hutang negara yang sebenarnya ratio hutang pemerintah hanya 29% dari PDB. Sangat rendah dibanding dengan negara tetangga seperti Singapura (112,24%) atau Thailand (32,5%). Bahkan saya ditanya oleh ekonom dunia kenapa Indonesia tidak menambah hutangnya karena rationya sangat rendah.

Secara umum, semua yang pemerintah kerjakan itu merupakan satu proses yang tidak instan. Bahwa belum semua lapisan masyarakat bisa merasa puas, ya pastilah. Karena baru 4,5 tahun kita bekerja membenahi negara ini.

Satu-satunya musuh terberat yang dapat menghambat kinerja Joko Widodo adalah comfort zone. Yaitu orang-orang yang selama ini menikmati ketidakteraturan.

Sekarang kita buat teratur supaya semuanya harus tertata dengan baik. Jangan kita pikir masih seperti dulu gampang menyogok pejabat, tidak segampang itu lagi. Ketika saya pernah menjadi ketua tindak pidana pencucian uang, saya melihat semua aktifitas keuangan sekarang teregister. Coba Anda sekarang tiba-tiba mendapat Rp 500 juta, pasti rekening anda akan menyala merah di dalam sistem pengawasannya. Tidak mungkin dilakukan. Jika dilakukan maka peraturan perundang-undangan akan ditegakkan dengan disiplin. Beberapa pihak yang diduga menerima suap akhirnya diproses oleh penegak hukum, tanpa ada perlindungan dari Presiden.

Sekali lagi Anda mau pilih nomor 01 atau 02, saya tidak ada masalah. Yang saya inginkan hanyalah agar kita-kita mantan perwira, mantan pejabat, marilah berpikir jernih, marilah bernalar dalam melihat segala hal, jangan menutup mata hati terhadap fakta-fakta yang baik. Kita juga harus berani mengatakan yang benar adalah benar dan salah adalah salah.

Maka saya ingin sekali lagi mengundang kapan teman-teman entah mau ber-5 atau 10 orang, saya jamin pasti independen. Anda mau tanya apa saja, mau minta bukti apa saja, saya siap. Seperti berkali-kali saya omongkan, bahwa saya tidak akan mungkin juga mau menghianati sumpah saya di Lembah Tidar. Saya juga tidak bodoh bodoh amat mengenai ekonomi. Karena tiap-tiap hari saya kerjakan selama sudah bertahun-tahun, masa saya tidak ngerti juga. Saya sendiri punya perusahaan, sampai sekarang masih untung juga. Saya juga punya team work yang sangat baik kalau boleh bilang.

Tidak perlu juga kita cemburu kepada kalangan sipil. Apakah selalu tentara yang lebih bagus? Saya pikir tidak selalu. Sebagai pensiunan tentara, menurut saya orang yang kerja dengan hati itu lebih bagus. Pak Jokowi datang dari kalangan sipil, tapi saya lihat Beliau kerja dengan hati. Selain itu Beliau berani mengambil keputusan dan tidak mencari pencitraan-pencitraan. Semangatnya hanya bekerja. Tapi berhubung banyak yang dikerjakan, maka ada yang menilai seolah-olah pencitraan.

Itu saja pesan saya buat teman-teman sekalian. Tidak perlu kita yang sudah menjalani hari tua seperti ini malah sibuk berkelahi di antara sesama sendiri. Ingat-ingat dulu kita masih muda, berhasil masuk Akabri/Akmil dengan nilai psikotes di atas rata-rata. Jadi saat sudah makin tua begini, logika kita musti makin jalan. Kalau logika kita tidak jalan, sedih juga saya melihat di antara kita menghabiskan hari-hari tua ini dengan penuh buruk sangka. Siapapun yang mau Anda pilih itu hak konstitusi dan hak demokrasi Anda. Saya sebagai teman hanya memberikan informasi mengenai kemajuan yang sudah dicapai.  Kalau Anda merasa bahwa ada yang lain yang terbukti lebih bagus, monggo tidak ada masalah.

Tapi ingatlah yang saya sampaikan hari ini bahwa saya melihat sudah ada gerakan yang mengarah pada keinginan untuk mengganti ideologi Pancasila. Itu yang saya takut. Keinginan itu nyata dan saya punya data-data yang cukup akurat terhadap itu yang tidak elok juga untuk kita buka ke publik.

Selamat berjuang, tahun depan kita akan memperingati 50 tahun kita lulus dari Akmil. Artinya sudah cukup lama kita berkawan dan marilah kita tetap berkawan di hari tua ini. Mari juga kita tetap pegang teguh sumpah kita di Lembah Tidar. Kita pertahankan NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945. Jangan pernah kita lari dari situ. Mari kita pegang Sumpah Prajurit, Sapta Marga sebagai pegangan kita dalam banyak hal.

Terimakasih.

(Dari Luhut B. Pandjaitan angkatan 67 Akabri, ditujukan kepada teman-teman di WAG angkatan 67)


Biasakan Membaca Sebelum Membagikan

Bijak Berpikir, Ayo Komentari