Siapakah Ibu Negara Kita Selanjutnya? Indonesia Terancam Tanpa Ibu Negara

Siapakah Ibu Negara Kita Selanjutnya? Indonesia Terancam Tanpa Ibu Negara

21/03/2019 Redaksi SATUIndonesia.id JURNALIS: Redaksi SATUIndonesia.id
Biasakan Membaca Sebelum Membagikan

Indonesia Terancam Tanpa Ibu Negara

Indonesia terancam tanpa ibu negara, kenapa? kita ketahui bahwa calon presiden (Capres) kita pada Pemilihan Presiden 2019 ini hanya dua pasang calon, Ir. H. Joko Widodo sudah pasti beristrikan Iriana Joko Widodo, sementara Prabowo Subianto?

Seorang ibu negara biasa disebut sebagai perempuan nomor satu di negara tersebut. Posisinya hanya kalau oleh orang nomor satu, yaitu suaminya sebagai presiden atau perdana menteri atau raja. Peran seorang ibu negara sangat penting dan sangat beaar dalam menyokong suksesnya seorang kepala pemerintahan dan kepala negara.

Di negara manapun dari dulu sampai sekarang, peran ibu negara sangat sentral. Apakah dominan atau tidak? Apakah terlalu dominan atau tidak? Tergantung siapa yang melihatnya. Berbeda kepentingan, berbeda pula pendapatnya.

Dari kacamata negara musuh, melalui pasukan mata-matanya, maka peran ibu negara menjadi teramat penting. Setiap pemerintahan tahu persis, peran penting seorang ibu negara, sehingga perlu untuk melihat, mengamati dan kalau perlu memata-matai sang ibu negara. Sekali lagi kalau kaca matanya adalah kaca mata negara musuh. Dulu, Uni Sovyet dan Amerika Serikat, saling silang memata-matai kepala negara masing-masing dan para ibu negaranya. Lumrahlah untuk negara yang bermusuhan.

Di indonesia sendiri, dalam sejarah pemerintahan sejak zaman Bung Karno sampai sekarang, peran yang paling terasa dari seorang ibu negara adalah ibu Hartinah atau ibu Tien Soeharto. Maklum, sang suami berkuasa selama 32 tahun, sehingga selama itu pula kiprah ibu Tien sering terlihat dan pada moment tertentu sangat menonjol. Ibu Tien terkenal amat berpengaruh. Sejumlah kebijakan dan keputusan pak Harto dipercaya berkat pengaruh ibu Tien.

Sementara itu, beberapa waktu silam, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan sambutan pada peluncuran buku sang istri Ani Yudhoyono yang berjudul ‘Ani Yudhoyono, 10 Tahun Perjalanan Hati’. Dalam sambutannya, SBY berkata bahwa presiden dan ibu negara harus saling menguatkan.

“Ibu Ani tadi mengatakan kami bersama-sama di kala suka dan duka. Dikatakan kami maksudnya Ibu Ani dan saya (saling) menguatkan,” kata SBY di Assembly Hall, JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (8/7/2018).

SBY lantas menyebutkan ada capres dan cawapres potensial yang hadir dalam acara peluncuran buku tersebut. Kata SBY, presiden dan ibu negara harus saling menguatkan.

“Barangkali ini baik didengar dengan baik, di ruangan ini banyak sekali capres potensial dan cawapres potensial, kalau ditakdirkan memimpin Indonesia, ingat saja perkataan saya ini. Harus kuat, saling menguatkan,” ujar SBY disambut tawa dan tepuk tangan para tamu undangan.

Ia juga berpesan bahwa kriteria untuk menjadi seorang presiden tak sekadar menjalankan pemerintahan. Tapi juga perlu kesabaran dan ketegaran untuk menjalankan pemerintahan.

“Sehingga diingat capres potensial di ruangan ini, seorang presiden tidak hanya cukup visioner dan bisa menjalankan pemerintahan, tanggung jawab dalam berdiplomasi dan lain-lain. Karena masih banyak peran tugas seorang presiden dibantu seorang wapres. Presiden harus kuat, sabar, tegar dan yang penting terus kerja apapun yang dikatakan oleh orang. Show must go on,” tutur Ketum Partai Demokrat tersebut.

SBY juga menyatakan, tak ada undang-undang yang mengatur tentang peran ibu negara. Dia juga sudah membandingkan dengan negara-negara lain.

“Saya kira di luar negeri juga begitu. Kalau peran, tugas, tanggung jawab presiden jelas. Kita bisa merujuk ke konstitusi undang-undang dan berbagai konvensi yang berlaku. Apa itu peran, tugas dan tanggung jawab presiden. Yang disampaikan Ibu Ani juga benar waktu itu silakan dirumuskan mana yang dianggap paling baik dan relevan silakan dilakukan. Saya katakan yang penting no bussiness, no politik praktis,” papar SBY.

#CERDASlahMemilih
#BagiEngkauYangBerakal


Biasakan Membaca Sebelum Membagikan

Bijak Berpikir, Ayo Komentari