Taktik Kampanye Prabowo-Sandi Menggunakan Taktik Kampanye Donald Trump

17/03/2019 Redaksi SATUIndonesia.id JURNALIS: Redaksi SATUIndonesia.id
Biasakan Membaca Sebelum Membagikan

Pertanyaan sederhana, pernahkah ada klarifikasi masuk akal -menggunakan data-data sahih- setiap isu yang diberondongkan secara membabibuta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi)? Belum pernah ada. Bahkan mungkin tidak ada. Isu Jokowi keturunan PKI, Jokowi antek asing, isu kemiskinan yang naik 50 persen, Jokowi anti-Islam dan banyak teror isu lainnya.

Karena tidak ada bukti ilmiah, maka isu ini bisa dikategorikan sebagai kebohongan. Ada semacam konspirasi untuk menjungkalkan Jokowi lewat strategi propaganda menyebar kebohongan dan dusta semacam ini. Dan, mudah sekali dalangnya diduga -semudah menatap langit. Pertama, bisa saja kelompok oposisi pemerintahan Jokowi. Kedua, kalau konteksnya Pilpres, berarti ya timnya pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandi.

Gelagat ini sudah terbaca sejak lama. Tapi contoh paling konkret bisa berkaca pada kasus kebohongannya Ratna Sarumpaet. Teknik menyebar kebohongan dan berita dusta ini mirip dengan metode yang dilakukan oleh Donald Trump pada saat Pilpres di Amerika Serikat (AS) tahun 2016 lalu. Teknik itu dinamakan firehose of falsehood (FoF) atau “selang pemadam kebakaran untuk kekeliruan”. Teknik ini yang kemudian mengantarkan Trump menjadi presiden ke-45 AS.

Analisis sederhananya begini. Kasus Ratna, setelah terbongkar ia langsung meminta maaf kepada publik. Tapi lihat yang terjadi setelahnya, banyak yang menduga bahwa hal itu hanya sebuah strategi kampanye. Sebab dalam waktu sangat singkat, pemberitaan soal Ratna mendapat porsi luas dari media nasional. Eksposur berita Ratna saat itu menandingi berita bencana alam di Palu dan Lombok.

Pemberitaan kasus kebohongan Ratna menjadi masif karena dibarengi oleh reaksi dari, Prabowo Subianto, yang saat itu merupakan tokoh yang didukung Ratna sebagai Capres. Produksi hoaks tersebut dengan segera cepat sekali menyebar.

Konferensi pers segera dilakukan oleh Prabowo bersama tokoh. Capres mantan menantu Soeharto ini menyebut kasus Ratna sebagai “pelanggaran HAM berat”. Selang beberapa jam, sangat singkat, Ratna justru meminta maaf dan mengklarifikasi kalau pemukulan itu tidak ada dan mengaku telah melakukan operasi plastik serta sedot lemak di wajahnya.

Kebohongan Ratna ini membuat kubu Prabowo turut meminta maaf ke publik. Namun, permintaan maaf ini tetap dibumbui sindiran kepada pemerintahan Jokowi, misalnya dengan menuduh kalau Jokowi sendiri sering memproduksi kebohongan. Ini seperti kasus-kasus serupa lainnya ketika timnya Prabowo melempar kebohongan, ketika terungkap, bermanuver menindihnya dengan kebohongan lain.

Contohnya seperti ini; ketika kasus Ratna terungkap dan benar-benar ditangani polisi, maka isu lain dimainkan. Misalnya saat polisi memanggil saksi-saksi, seperti Amien Rais dan tokoh lain. Apa yang terjadi? Orang-orang Prabowo membangun narasi baru bahwa saat ini Pemerintahan Jokowi tengah berlaku represif. Jokowi dianggap terlalu berlebihan dengan menggembosi kekuatan kubu Prabowo.

Narasi semacam ini bisa jadi merupakan bagian dari upaya pembentukan persepsi dari kubu Prabowo untuk mengesankan Jokowi sebagai pemimpin represif. Tapi setidaknya hal itu adalah langkah jitu untuk memainkan bola panas Ratna Sarumpaet.

Dalam hal ini -bila dikaitkan dengan teori FoF tadi- kebenaran menjadi tidak penting lagi. Paling penting adalah opini, dan opini merekalah paling layak untuk dipercaya. Karena mereka adalah kelompok yang memproduksi berita dengan memainkan peran sebagai korban (playing victim). Maka, tak heran jika kata “korban” menjadi pelarian yang makin sering keluar dari kubu Prabowo.

Contoh lain, saat polisi memanggil Dahnil Anzar Simanjuntak, Juru Bicara Tim Pemenangan Prabowo-Sandi, sebagai saksi kasus dugaan korupsi di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Lalu llihat reaksi kubu Prabowo, mereka lagi-lagi menuduh Jokowi menggembosi timnya. Playing victimdimainkan lagi. Padahal saat ditanya bukti tuduhan itu, mereka tidak punya.

Paling baru saat acara kolosal Reuni 212 di Jakarta. Prabowo menyebut peserta reuni mencapai 11 juta orang, Novel Bamukmin sebagai Ketua Media Center reuni mengungkapkan angka antara tiga sampai empat juga. Sementara itu, Bernard Abdul Jabar, Ketua Reuni Mujahid 212, menyebut jumlahnya delapan juta orang.

Lalu cek data kepolisian? Brigjen Dedi Prasetyo, Karopenmas Divhumas Polri mengatakan jumlah pesertanya sekitar 40 ribu orang. Bagaimana dengan perhitungan menggunakan aplikasi mapdevelopers.com? Setelah dikalkulasi ditemukan angka paling sedikit 193.244 orang dan paling banyak 772.976 orang. Jadi jumlah peserta tidak menyentuh 900 ribu orang, apalagi satu juta.

Di tengah ketidakpastian jumlah peserta ini, tiba-tiba Prabowo menyerang jurnalis yang tidak mau meliput dan menuduh media telah memanipulasi demokrasi. Padahal inti dari polemik tersebut adalah kebohongan, yakni klaim jumlah peserta Reuni 212 yang salah.

Apa Itu Teknik Firehose of Falsehood?

Adalah RAND Corporation yang pertama kali menerbitkan sebuah analisa penelitian terkait terpilihnya Donald Trump dengan kemiripan metode yang digunakan oleh Vladimir Putin saat menganeksasi Crimea (2014) dan Georgia (2008). Dukitp dari vox.com, metode FoF menggambarkan strategi di mana seorang propagandis dapat membanjiri publik dengan menghasilkan aliran informasi dusta yang tidak pernah berakhir.

Dalam publikasi tersebut, Christoper Paul dan Miriam Matthews menjelaskan bahwa Rusia mengunakan teknik kebohongan yang diproduksi secara masif dan simultan melalui media-media pemberitaan yang mereka miliki. Kemudian teknik ini diadopsi oleh Donald Trump pada saat Pilpres AS.

Pada dasarnya, teknik ini menggunakan obvious lies atau kebohongan tersurat yang direncanakan untuk membangun ketakutan. Sebagai propaganda, cara ini dinilai sangat efektif sebab memengaruhi bagian otak yang disebut amygdala – bagian otak yang bertanggung jawab untuk mendeteksi rasa takut dan mempersiapkan diri pada kondisi darurat.

Sementara itu, untuk bekerja secara efektif, obvious lies memiliki empat karakter kunci. Pertama adalah diproduksi secara masif dan disebarkan melalui berbagai media pemberitaan. Artinya, informasi fiktif diproduksi dengan kuantitas tinggi dan disiarkan melalui banyak media berupa teks, audiodan video.

Lalu Kedua adalah, bergerak dengan cepat, terus menerus dan berulang. Artinya, pemberitaan ini harus diberitakan dengan masif, terus menerus dan berulang. Ketiga, tidak adanya komitmen pada realita atau fakta. Artinya pemroduksi propaganda ini acuh kepada komitmen. Kendatipun kebohongan itu mudah dibongkar, mereka akan cuek dan melenggang kangkung.

Terakhir, karakter ini tidak memiliki komitmen pada konsistensi. Artinya, konsistensi pada berita bohong yang diproduksi adalah persoalan belakangan, bisa saja dalam sekejap berita itu diklarifikasi dengan pernyataan berbeda, namun kebenaran berita tersebut juga belum bisa dibuktikan. Yang terpenting adalah berita pertama sudah tersebar dan didistribusikan dengan metode seperti pada karakter pertama dan kedua.

Pertautan empat karakter tersebut penting dan akan efektif memainkan isu yang beredar. Perpaduan antara prinsip iklan dan kelonggaran dalam konsistensi ini menimbulkan perpaduan yang aneh, namun efektif untuk menciptakan kebimbangan dan rasa takut pada masyarakat.

Tentu saja, dua karakter terakhir menjadi menarik untuk memainkan peran dalam membentuk propaganda. Jika merujuk pada penelitian Standford History Education Group, masyarakat cenderung mudah menerima berita bohong atau hoaks karena adanya keputusan dari dalam diri untuk membiarkan hal-hal yang sebenarnya keliru mengambil alih pikiran.

Ada kecenderungan alami manusia untuk mengedapankan emosi ketimbang rasional, sehingga biasanya seseorang akan mencari jawaban yang paling mudah atau yang paling sesuai dengan preferensi dirinya, misalnya tentang keyakinan politik. Hal ini sejalan dengan cara kerja keempat karakter yang disebutkan sebelumnya sebab secara psikologis, obvious lies akan menyerang amygdala dalam struktur otak, sehingga mudah untuk membangun sebuah ketakutan.

Di AS sendiri, Trump menggunakan fake news kala itu, seperti misalnya pernyataan tentang sertifikat lahir Barrack Obama palsu dan Obama atau Hillary Clinton adalah pendiri ISIS, yang mana informasi ini tidak jelas kebenarannya. Di lain kesempatan, Trump menuduh moderator debat presiden saat itu, Laster Holt, sebagai orang Partai Demokrat, sehingga tidak fair.

Padahal, ternyata Holt bukan orang Demokrat. Namun, Kellyanne, asisten Trump, meyakinkan bahwa Trump tidak berbohong. Menurutnya, pendapat Trump yang mengaku tidak mengetahui pilihan politik Holt adalah bukan sebuah kebohongan, melainkan kebenaran alternatif atau alternative fact.

Trump nyatanya dengan mudah membuat kebohongan dengan kuantitas terhitung banyak. Lalu, ia seolah tidak berpegang teguh pada berita bohong yang telah dibuatnya dan dengan mudah beralasan dengan pernyataan-pernyataan yang belum tentu bisa diukur tingkat kebenarannya. Alih-alih menyadari bahwa informasi yang disampaikan sebuah kebohongan, ia malah berdalih dengan alternative facts tadi.

Melalui sejumlah penelitian di AS, perilaku Trump tersebut pada akhirnya memiliki efek mampu membuat masyarakat bimbang dan pada akhirnya mempercayai pemberitaan yang beredar tersebut. Bahkan, ketika sudah dilakukan fact checking-pun, hal tersebut tidak mengubah opini para konstituen di sana.

Sementara itu, jurnalis Amerika-Rusia, Masha Gessen menyebut pertalian antara firehosing dengan fact checking tidak selalu berkaitan dengan persuasi kepada publik. Namun terkait dengan power, yakni kekuatan yang digunakan oleh seseorang untuk mempermainkan kebenaran. Misalnya adalah kebohongan tersurat yang dilakukan oleh Trump terkait dengan Holt yang bisa disebut sebagai alternative fact.


Biasakan Membaca Sebelum Membagikan

Bijak Berpikir, Ayo Komentari